Kota Hisperis, pusat kemajuan teknologi yang pesat, juga menjadi ladang pertumbuhan metahuman yang tak terkendali. Pertikaian kecil kerap meletus di sudut-sudut kota, memaksa pemerintah menetapkan larangan keras, warga dilarang mendekati wilayah konflik, apalagi terlibat dalam pertempuran. Namun, bagi seorang wartawan sejati, batas itu hanya tantangan. Justru di balik bahaya, mereka mencari kisah yang tak bisa disaksikan oleh masyarakat biasa.

"Laura, dari mana kamu tahu kalau dua orang itu akan diserang malam ini?" bisik Habibi dengan nada penuh penasaran, matanya menatap layar kecil di tangan Laura.

Laura hanya tersenyum tipis. Setelah mengirim informasi kepada Kanaya, firasatnya mengatakan serangan akan segera terjadi. Tak lama, pesawat The Hunter melintas di atas langit Hisperis, mengonfirmasi dugaannya. Tanpa membuang waktu, Laura menarik Habibi menuju lokasi dan menyiapkan kamera pengintai berjarak jauh.

"Jangan pikirkan itu. Yang penting, kita dapat berita eksklusif. Sangat langka bisa meliput pergerakan The Hunter. Kita bakal jadi headline besok," bisik Laura, pandangannya tajam menatap layar, menyembunyikan kenyataan bahwa ialah yang telah memberi informasi kepada Kanaya.

"Laura, lihat siapa wanita itu? Apakah dia anggota the Hunter juga?" bisik Habibi, matanya tertuju pada iring-iringan mobil taktis yang dipimpin oleh seorang wanita berwajah tegas, tidak lama setelah mereka melihat Lynx dan Leena terkurung dalam penjara khusus. Dia pernah mendengar cerita tentang Kanaya dari Laura, namun Habibi belum pernah melihatnya secara langsung sehingga dia tidak mengenalinya.

Laura mengarahkan fokus kameranya kearah wanita tersebut dan segera mengenalinya, Kanaya.

"Aku belum pernah melihatnya, tapi sepertinya dia memiliki posisi yang tidak rendah." jawab Laura berbohong, dia tidak ingin identitas Kanaya di ketahui Habibi. saat mengedit, ia akan mengaburkan wajah Kanaya agar tak bisa dikenali siapapun karena dia khawatir ada yang mengetahui hubungan mereka dan membahayakan dirinya.

Tiba-tiba situasi berubah drastis, disaat mereka sedang tercengang dan kebingungan melanda mereka melihat para pasukan dan team The Hunter dengan mudah dikalahkan oleh Lynx, Tiba-tiba seperti ada tirai tak terlihat menjatuhkan penghalang, mereka tidak bisa melihat atau mendengar apa yang terjadi di sekitar lokasi pertempuran. Mereka hanya sempat melihat Lynx berhasil menemukan pimpinan wanita yang bersembunyi dan Leena menangkapnya, lalu orang-orang di tempat tersebut seolah menghilang, tidak terlihat.

Di tempat lain, Komandan Vex yang memperhatikan jalannya pertarungan dan melihat kekalahan di team mereka juga menjadi gusar dan marah. Matanya tiba-tiba membelalak dan ekspresinya berubah murka ketika tiba-tiba semua orang di area tersebut tidak lagi terlihat di layar monitor.

"Apa yang terjadi?" kata Komandan Vex dengan geram.

Setelah terdiam sesaat menganalisa kejadian yang terjadi, dia lalu menekan alat komunikasi di pergelangan tangannya."Zero, perketat perimeter. Siapkan seluruh pasukan untuk siaga satu!"

"Siap, Komandan," jawab pria bertubuh kekar yang muncul di layar. Dalam waktu singkat, sirene dibunyikan. Pasukan bersenjata lengkap mulai bergerak. Tank-tank beroda baja, drone bersenjata berat, dan artileri tempur diluncurkan ke posisi siaga. Markas rahasia di luar kota Hisperis mulai bergemuruh oleh suara mesin tempur yang bangkit satu per satu.

Komandan Vex yang memantau dari layar monitor tersenyum sinis,"Datanglah. Aku akan memberikan sambutan yang meriah untukmu." bisik pelan Komandan Vex. Instingnya di medan pertempuran, mengatakan pemuda itu akan menemukan lokasi mereka, sehingga dia harus bersiap. Namun didalam hatinya terdapat sedikit kegelisahan," Wajah pemuda itu, aku merasa tidak asing pernah melihatnya tapi aku tidak bisa mengingat dimana pernah bertemu dengannya."

Di lokasi yang telah tertutup formasi isolasi, Lynx memandangi Kanaya yang masih bertahan meski tubuhnya dilanda rasa sakit dan gatal yang menyiksa. Formasi itu tak hanya meredam suara dan pandangan dari luar, tapi juga menjaga rahasia mereka tetap tersembunyi dari siapapun, termasuk para penjaga Lala. Lynx tak ingin teriakan Kanaya menggema di kota Hisperis, juga tak ingin risiko keselamatan Lala meningkat karena informasi yang bocor.

Leena mendekat, suaranya berbisik lembut, "Aku tidak tega melihatnya. Tak adakah cara lain?"

Sebagai sesama wanita, hati Leena tergores melihat wajah Kanaya yang tadinya mulus kini dipenuhi goresan luka, bekas cakaran kuku sendiri yang dibuat karena efek akupuntur yang merangsang rasa gatal ekstrem.

Lynx terdiam sejenak. Di dalam hatinya, dia mengakui, "Dia lebih tangguh dibanding para kultivator yang pernah melalui siksaan serupa." Ia akhirnya melepaskan titik akupuntur tersebut, menghentikan penyiksaan.

Namun tatapan Kanaya tak melemah. Ia menatap Lynx dengan mata penuh kebencian dan kegigihan yang membara. "Kenapa berhenti? Penyiksaan ini tidak akan membuatku menyerah. Meski harus mati, aku tidak akan biarkan kamu tahu di mana Lala. Dia akan ikut denganku... menyusul Kael."

Kanaya tertawa pelan, tertahan rasa sakit. Tertawa itu terputus-putus oleh luka dan darah, namun justru membuat wajahnya tampak makin menyeramkan.

Lynx menyunggingkan senyum sinis. "Menyusul Kael? Apa menurutmu Kael sudah mati?"

Leena yang berdiri di sampingnya menimpali dengan suara tajam, "Kau beruntung Kael masih hidup dan dalam keadaan baik. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menyiksamu."

"Masih hidup? Baik-baik saja?" Kanaya tertawa lagi, namun kali ini disertai batuk darah. "Kalian pikir aku bisa dibodohi? Dia terkena tembakan laser dan ledakan bom yang kupasang sendiri. Tak mungkin dia selamat. Kalian hanya sedang menenangkan diri kalian sendiri dengan harapan kosong."

"Aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu. Tetapi kamu bisa menebak sendiri kemampuanku." Lynx menyalurkan energi saktinya ke tubuh Kanaya. Dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh Kanaya mulai pulih. Luka-lukanya sembuh seolah tak pernah ada, dan kulitnya kembali halus seperti semula. Para pasukan yang menyaksikan ini, termasuk Ockron dan Kilat, terperangah. Mereka tidak pernah melihat sesuatu yang secepat itu dalam teknologi mereka. Tidak ada alat atau obat yang mampu menyembuhkan tubuh manusia dalam sekejap seperti ini.

"Bagaimana mungkin, luka-lukanya Kanaya bisa disembuhkan secepat itu?" Bisik Kilat kepada Ockron yang terikat bersamanya."Bukankah berarti pemuda itu memiliki banyak kekuatan metahuman,termasuk penyembuh?"

"Dia bukan metahuman biasa, kita perlu bekerjasama dengan yang lainnya untuk mengalahkannya." bisik Ockron.

"Kamu... kamu... bagaimana mungkin...?" Kata-kata Kanaya terhenti. Dia semakin yakin Kael masih hidup. Dia gagal membunuhnya.

"Sekarang katakan! Dimana Lala? Aku bisa melakukan berbagai penyiksaan kepadamu dan memulihkanmu lagi berulang kali." ancam Lynx dengan wajah serius.

Kanaya mulai goyah, dia kehilangan kekuatan untuk bertahan. Baginya mati bukanlah masalah, namun jika mengalami penyiksaan yang abadi, dia tidak yakin mampu bertahan.

"Aku yakin komandan Vex memiliki cara mengatasinya. Bukankah banyak teknologi tinggi di markas yang dapat digunakan untuk mengalahkannya."

Dengan tubuhnya yang masih terasa lemah, keringat dingin semakin membasahi tubuhnya, dia mulai terduduk lemas. Dengan suara serak, dia akhirnya mengalah. "O-oke... aku... aku akan bicara," desisnya dengan napas terengah-engah, suaranya terbata-bata karena bekas penderitaan yang baru saja ia alami.

Namun, Lynx tidak lengah. Dia memandang Kanaya dengan tatapan tajam, menekankan ancamannya. "Jika kamu berani membohongiku, penyiksaan yang kuberikan akan lebih menyakitkan dari yang kamu rasakan tadi. Aku akan mengirimmu ke dimensi dimana tak ada cahaya, tak ada suara, tak ada kehidupan. Hanya kamu... dan kegelapan selamanya.. Kamu akan merasakan penderitaan yang tak akan berakhir," katanya, nada suaranya penuh dengan ancaman yang sangat jelas.

Kanaya membeku.

Dia masih ingat jelas rasa sakit yang baru saja ia alami. Kanaya menatap Lynx dengan ketakutan yang mendalam. Ketakutan itu sangat jelas terlihat, bahkan meskipun dia adalah pembunuh bayaran yang keras. Akhirnya, tak tahan lagi, dia terpaksa mengungkapkan apa yang dia tahu. "Lala... Lala berada di bawah pengawasan Komandan Vex," kata Kanaya dengan suara lemah dan gemetar, takut jika Lynx akan melakukan apa yang dia katakan. Bayangan kesendirian abadi itu lebih mengerikan dari semua penyiksaan fisik. Ia adalah pembunuh bayaran yang telah melihat banyak kematian, tapi ini... bukan kematian. Ini kehampaan yang tak akan berakhir. Dan dia tahu pemuda di depannya ini sanggup melakukannya. Keberadaannya di dunia ini adalah bukti kemampuannya datang ke dimensi berbeda. 

Lynx menatapnya tajam tanpa bicara, namun dalam hatinya ia hampir tertawa. "Ternyata metode ini lebih efektif dari yang kubayangkan. Aku bahkan tidak tahu tempat seperti itu benar-benar ada... tapi dia tak tahu itu."

